September 05, 2018

Keliling Dunia Lewat Postcrossing

Sudah empat bulan ini aku menggeluti dunia baru: Postcrossing. Ini nama suatu komunitas penggemar kartu pos yang melakukan kirim-terima kartu pos secara acak ke seluruh dunia. Pertama kali mengenalnya adalah berkat Yopita, teman Kelompok Kecil pemuridan semasa di kampus yang kebetulan sama-sama berkantor di Lapangan Banteng. Dia juga travel-blogger/vlogger, lho, monggo main ke blog-nya.

Kartu pos siap dikirim | @postaleid

Yopita ini sering banget ngomongin "kartu pos" tiap dia pelesir ke luar negeri. Beberapa kali dia menjanjikan akan mengirim kartu pos kepada followers Instagram yang berhasil menjawab satu-dua pertanyaan intermezzo di Instastory-nya. Dulu, aku sering membatin, "Ngapain sih mesti repot-repot nulis kartu pos, beli prangko, trus cari kantor/kotak pos... Capek ih!" Padahal aku sendiri doyan memborong kartu pos cantik khas kota/negara yang aku kunjungi, tapi ya untuk koleksi pribadi saja.

Ternyata... rasanya menyenangkan banget menerima kartu pos dari luar negeri! ๐Ÿ˜Kartu pos pertamaku datang dari salah satu (mantan) bos yang kala itu dinas luar ke Seoul. Nyampenya sih beberapa hari setelah sang bos pulang, hahaha. Tapi tetap saja bahagia, kayak WOW gimana gitu. Apalagi bapak bos baik hati ini niat banget meminta bantuan penjaga toko/kios suvenir menuliskan namaku dalam Hangul a.k.a alfabet Korea. Ditambah lagi wujud kartu posnya cantik banget (jarang lho bapak-bapak punya selera seni yang bagus hahaha)

Kartu pos perdana


3 Mei 2018 jadi hari pertamaku mendaftar di situs Postcrossing, tanpa angin tanpa hujan. Mungkin karena sedang bosan-bosannya dengan jabatan baru (ehm, sekretaris) yang bikin aku terkekang di belakang kubikel. Eh, ternyata situs ini menarik banget! Syaratnya cuma satu: kirim kartu pos dulu baru kemudian kita dikirimi kartu pos balik. Semuanya acak, random by system. Kamu nggak bisa milih mau kirim ke User A karena doski ganteng... atau mau ke User B karena negaranya dekat. Pokoknya... surprise! 

Kartu pos pertama yang harus aku kirimkan ditujukan ke Jerman. Aku buru-buru ke Kantor Pos Filateli di Pasar Baru (belakang Kantor Pos Utama di Lapangan Banteng) untuk membeli kartu pos dan prangko. Aku lupa berapa tepatnya harga kartu pos tersebut, tapi sekitar Rp3.000,- per lembar. Untuk prangko harganya sesuai dengan nominal yang tertera, kali itu kubeli yang Rp2.500,- per prangko sebanyak 8 set (1 set isi 4 pcs).

Di Kantor Pos Filateli itu jugalah langsung kutuliskan 'surat' untuk teman pena baruku ini. Kalimatnya tentu sudah kurangkai sejak di kantor, tinggal ditulis saja. Aku menulis tentang diriku, Indonesia, dan ditutup dengan tawaran menjadi host jika dia bertamu ke sini.

Niat banget, Kak, nulisnya...

"Bu, berapa prangko yang harus aku tempelkan?" tanyaku kepada ibu pegawai Kantor Pos. 

"Sepuluh ribu, Mbak."

Langsung lah kutempelkan 4 lembar prangko bergambar bangunan-bangunan terkenal di Indonesia, tanpa meragukan ucapan si ibu pegawai. Lah ndak mungkin salah, wong dia orang Pos Indonesia. Karena space di kartuku tinggal sedikit -- saking banyaknya cerita yang kutuliskan -- prangko kutempelkan bertindihan saja, tak masalah yang penting nominal angkanya masih terlihat. Sama kayak menempel meterai.

Yeay!

Usut punya usut rupanya tarif pengiriman kartu pos resmi lebih murah dari Rp10.000,- yang kubayarkan kemarin!

Lihat baris yang dibirukan

Diambil dari Permen Kominfo terakhir

Biaya mengirim kartu pos (biaya prangko) intinya sebagai berikut: Pengiriman ke benua Amerika harganya Rp8.000,-; ke benua Eropa harganya Rp7.000,-; ke benua Afrika harganya Rp7.000,-; ke benua Asia selain jazirah Arab harganya Rp6.000,- dan ke jazirah Arab Rp7.000,-; dan ke benua Australia harganya Rp6.000,-

Harga diatas kemungkinan akan mengalami perubahan di tahun 2018 ini. Tunggu saja Peraturan Menteri Kominfo terbaru ya.

Kalau kartu posnya beli dimana Lin? Aku kemarin baru saja memborong 100 kartu pos secara daring, yaitu lewat akun Instagram @postaleid. Harganya Rp3.500,- per kartu dengan puluhan gambar dan motif menarik. Selain di situ, aku juga sering mampir ke akun @haloposnesia dan @postnication. Belum pernah beli offline sih selain di Kantor Pos Filateli, jadi aku belum bisa merekomendasi toko yang terbaik/termurah. Maaf ya.


Sejauh ini, aku lebih menanti-nantikan notifikasi surat elektronik (surel/e-mail) yang mengabarkan bahwa kartu posku sudah diterima Si A di belahan dunia lain. Menerima kartu pos emang menyenangkan, tapi aku lebih suka menulis dan mengirim. Tulisan tangan seakan jadi pengganti fisikku yang tidak bisa berkelana ke negara lain... dan aku memang suka sih ngobrol dengan orang asing hehehe.

Gimana, readers, apakah tulisanku kali ini cukup menggugah hati kalian untuk bergabung sebagai Postcrosser? Yuk, yuk! Kalian juga harus merasakan sensasi deg-degan menunggu kabar kedatangan kartu pos, baik yang dikirim maupun yang akan diterima. Nagih! Kalau sudah bergabung, jangan lupa main ke akunku ya barangkali ada yang berminat kirim-kiriman kartu pos langsung (direct swap) hihihi ๐Ÿ˜‹

0 testimonial:

Post a Comment