September 02, 2017

Syuting "Life of Pi" di Teluk Kiluan

Tenang, readers. Tidak ada harimau Bengali terlibat dalam trip kali ini, dan tidak ada juga zebra, orangutan, maupun hyena yang terluka selama trip. Yang ada hanya aku, Agung, Bang Adi, dan Vani -- terapung-apung dalam perahu kecil di atas laut lepas yang menuju Samudera Hindia. Pengalaman "floating on a boat" inilah yang aku sebut 11-12 dengan plot film "Life of Pi".

Selain 'syuting' di tengah laut, kami juga melakukan pengibaran Bendera Merah-Putih (tanpa upacara) di berbagai spot eksotis Teluk Kiluan. Dirgahayu Indonesia!

17 Agustus-an di Laguna Gayau
Pesona Gigi Hiu

Kamis, 17 Agustus 2017
Perjalanan dimulai dengan Damri pukul 04.30 WIB. Langit Jakarta masih gelap, warganya masih bergelung selimut di atas kasur, sementara aku sudah menenteng-nenteng backpack menuju Stasiun Gambir. Tim "Gigi Hiu Trip" baru lengkap berkumpul di boarding gate; ada Bang Adi dan Vani -- reunian Russia Trip -- yang perdana berkenalan dengan Agung, makhluk yang kerap menghiasi memori kameraku dengan pose-pose menantangnya.

Supir dan mobil dari agen Kiluan Trip sudah menanti di luar Bandara Raden Inten (TKG). Kami langsung diajak menempuh perjalanan ±3 jam dari bandara ke Kecamatan Kelumbayan, Teluk Kiluan. Ketika melewati Bandar Lampung, aku spontan menjadi 'tour guide' bagi ketiga rekanku, memberikan berbagai informasi tentang kota ini. Maklum, aku sudah khatam berkeliling kota saat "Perkasa Trip" empat tahun silam. Bandar Lampung mengalami banyak perubahan: jalanan diperlebar, flyover dibangun, dan toko-toko baru didirikan tanpa memasang ciri khas siger di bagian facade-nya. Sayang sekali.

Trip Teluk Kiluan ini berhasil membuka mata kami bahwa pembangunan infrastruktur yang jadi program kerja andalan Presiden Joko Widodo memang sangat dibutuhkan negeri ini. Dari 3 jam perjalanan Bandar Lampung ke Teluk Kiluan, mobil berguncang tak stabil selama hampir 1/2-nya. Jalanan sempit berlubang, berpasir + kerikil, berkelok-kelok... kesemuanya sukses membuat aku dan ketiga temanku tidak bisa tidur tenang dalam perjalanan. Buas betul jalanan berlubang ini. Pantas saja Google Maps memberinya nama "Dirt Road".

Kami sempat berhenti sejenak untuk menjemput "Bapak Tour Guide" yang akan menemani kami wisata selama di Teluk Kiluan. *Walaupun nyatanya si Bapak ini tidak banyak memberi panduan wisata, beliau kebanyakan hanya jadi koordinator kebutuhan kami selama di desa Kiluan. Tour guide yang sesungguhnya adalah pemuda-pemuda setempat yang mengantar kami dengan perahu dan motor menuju berbagai lokasi wisata Teluk Kiluan*

'Pekarangan' homestay. Psstt, jangan tertipu teduh arus lautnya

Penginapan kami terletak di Desa (Pekon) Kiluan Negeri, Kec. Kelumbayan, Kab. Tanggamus, Lampung. Homestay berbentuk rumah panggung kayu yang dibangun tepat di pesisir teluk. Awalnya Bang Adi mewanti-wanti kami untuk bijak memakai HP dan kamera, karena aliran listrik di desa hanya tersedia pada siang hari. Untunglah pernyataan ini terpatahkan setelah kami melihat sendiri kondisi rumah yang bahkan dilengkapi AC di salah satu kamarnya. Colokan tersedia di setiap sudut rumah, pertanda listrik bukan lagi hal yang langka di desa ini.

Hanya saja... jaringan telepon seluler justru absen di tempat ini. Adapun aku dan Agung masih bisa menerima jaringan EDGE lewat provider Telkomsel, sedangkan Vani dan Bang Adi harus puas termangu menatapi kesunyian teluk. Hahaha. Dasar generasi millennial, hidup beberapa jam tanpa HP bisa bikin mati gaya. Namun di sisi lain hal ini bikin kami lebih akrab, lebih banyak mengobrol daripada sibuk mengedit foto untuk kemudian dipamerkan ke media sosial.


Welcome drink berupa teh manis anget

Kami disambut dengan sajian makan siang yang langsung bikin air liur terbit: ikan goreng! NYAMNYAM! Tanpa banyak bertanya tentang nama dan habitat si mendiang ikan, kami langsung menyerbu hidangan. Ditemani nasi panas dan sambel cabai cetar, makan siang kami terasa begitu nikmaaat. "Lapar" memang juru masak terbaik!

Satu jam kemudian kami diajak Bapak Guide untuk bersiap menaiki jukung (perahu kecil bercadik bambu) yang akan membawa kami ke Gigi Hiu. Barangkali karena masih kenyang dan linglung, kami mengiya-iyakan saja ajakan tersebut. Barulah kemudian di tengah laut... kami menyesali perjalanan ini 😷

Dari homestay menuju Gigi Hiu, kami berlayar selama hampir 1 jam di tengah-tengah kencangnya arus laut. Dua orang pemuda berusia 20-an tahun menjadi 'nahkoda' kami siang itu, selain Bapak Guide yang duduk di ujung jukung. Tidak ada dari kami berempat yang ingat bahwa perairan ini adalah persilangan Samudera Hindia dan Laut Jawa; artinya: GANAS, BUNG! Kami tertipu melihat perairan teluk di depan homestay yang begitu teduh, padahal itu karena letak Pulau Kiluan yang strategis di mulut teluk sukses 'menghalang' arus laut lepas. Semeter saja beranjak dari 'naungan' Pulau Kiluan... byar! Kapal oleng!

Ombak kencang setelah melewati Pulau Kiluan
Setibanya di titik terdekat ke Gigi Hiu, 'nahkoda' kami (selanjutnya akan kusebut sebagai "Abang Jukung") barulah bersuara: "Pak (ngomong ke Bapak Guide), ini nggak bisa nepi. Serem sama ombaknya. Nanti kita malah terseret arus trus kena ke badan karang." WOY! HELLO! Kenapa nggak ngomong dari tadi sih aelaaaah. Ini perjalanan satu jam sia-sia doooong cuma bikin mules dan puyeng aja 😓

Sepengetahuan kami, menuju Gigi Hiu memang harus ditempuh dengan motor/ojek melewati jalanan primitif, bukan dengan perahu. Entah kenapa Bapak Guide membawa kami dengan perahu, dan anehnya kami pun tidak ada yang protes sedari awal hahaha. Akhirnya, sebagai penghibur hati yang terluka, Abang Jukung mengusulkan ide untuk singgah di suatu pulau yang sebelumnya kami lewati. Lumayanlah, daripada galeri kamera kosong melompong kan. Plan B ini sekaligus untuk menenangkan isi perut yang sudah bergejolak, kami butuh daratan secepatnya!


Tepar, shay!

Pulau Kelapa
adalah satu diantara sekian pulau di sekitar teluk yang dapat dicapai dari Desa Kiluan Negeri dengan 15 menit berperahu. Pulau ini memiliki luas sekitar 6 hektar dan tidak berpenghuni. Pasir putihnya yang halus bikin kami langsung tepar berbaring (ehm, sebenarnya karena mabuk laut sih hahaha). Suasana sekitar juga sedang sepi, hanya ada kami dan satu rombongan anak muda lain yang tengah berenang di pesisir pantai. Kami tak berlama-lama di pulau ini, hanya sekadar menghilangkan pusing dan menambah koleksi foto di galeri kamera yang sejauh ini masih 'perawan'.

Padahal baru kenal Bang Adi beberapa jam, Agung udah menampakkan belangnya

Salah satu spot yang 'instagrammable'

Setibanya kembali di desa, Abang Jukung menepati janjinya untuk membawa kami ke "laguna" yang konon katanya kece bangets. Laguna Gayau berada di balik bukit Teluk Kiluan dan sering juga disebut orang sebagai "Laguna Dodo". Jalur trekking-nya cukup jauh dan terjal, dimulai dari gang kecil yang terletak beberapa meter dari area homestay. Dari starting point ini kita akan menemukan rumah warga yang dijadikan pos masuk laguna, tempat kita membayar karcis sebesar Rp5.000,- per orang. Agar lebih aman, pastikan kalian ditemani guide lokal ya. 

Jalurnya begitu menantang, readers, meski sudah mengalami banyak perbaikan dari tahun 2013 (lihat penampakan rutenya tahun 2013). Di kiri-kanan jalan terdapat banyak pohon cacao/kakau, kami bahkan sempat melihat monyet di tengah rimbunnya pepohonan. Jalur ini punya topografi naik-turun yang cukup terjal dan sempit, makanya wajib banget menyiapkan energi maksimal dan perlengkapan tempur yang sesuai. Gunakan sendal/sepatu gunung yang aman serta pakaian berbahan ringan dan menyerap keringat. Lebih bagus lagi kalau pakaiannya tertutup, mengingat kita akan menembus hutan yang penuh serangga seperti nyamuk dan lebah. Trekking memakan waktu 15-20 menit, bisa lebih lama lagi jika tanah sedang basah akibat hujan.

Sis Vani tetap dalam pengawasan guide

Finishing point
 jalur trekking akan menampilkan pemandangan seperti foto di atas. Jalan maju sedikit lagi, kalian akan menemukan hamparan bebatuan besar yang bisa kalian eksplorasi. Nah, di bawah bebatuan inilah terletak "laguna", suatu cerukan yang tercipta dari batu karang alami menyebabkan terbentuknya 'kolam' dangkal dan jernih. View ini sangat memikat apalagi ketika ombak kencang datang dan menghempas karang di sekitar laguna. Sungguh maha besar Sang Pencipta.

Wajib ekstra hati-hati ya saat berada di sekitar laguna ini. Sudah ada 5 (lima) korban jiwa yang terseret ombak saat asyik foto-foto di laguna. Mereka tidak awas dengan keadaan sekitar. Kebetulan pula rombongan itu tidak ditemani guide lokal yang mahir mendeteksi bahaya arus dan ombak. May they rest in peace. 

Selalu waspada! Jangan keasikan foto narsis terus nyawa melayang tergulung ombak. Atau 'hanya' kebasahan disiram ombak, seperti beberapa pengunjung yang kulihat dengan mata kepala sendiri. Kalau tergoda ingin berenang di laguna, konsultasilah terlebih dahulu dengan guide. Biasanya pengunjung dilarang berenang jika hari sudah sore mengingat kencangnya ombak serta angin akibat air laut pasang.

Ombak datang vs Ombak Surut
(Can you spot Vani there?)

Di sisi lain laguna, terdapat hamparan tebing yang menghadap laut lepas. The view was so great, you guys won't wait too long to turn your camera on. Wajib foto-foto dong. Kami tak melewatkan panorama cantik ini dan segera mengibarkan Sang Merah Putih sebagai bentuk perayaan Ulang Tahun Indonesia ke-72.

Dari atas tebing

Siapa pemenang Kiluan's Next Top Model edisi 17 Agustus ini?

Puas berfoto di atas karang dan di bawah laguna, kami kembali ke homestay dengan menempuh jalur yang sama. Untunglah perjalanan pulang selalu lebih ringan daripada perjalanan berangkat. Karena belum ada fasilitas penerang jalan di rute Laguna Gayau, pastikan readers beranjak pulang sebelum matahari terbenam.

Kegiatan anak-anak lokal saat sore hari: main perahu di bibir teluk

Jumat, 18 Agustus 2017
Adzan subuh dan bunyi alarm HP jam 5 pagi sukses membangunkanku. Samar-samar kudengar suara langkah kaki Agung dari kamar sebelah yang sepertinya sedang sholat subuh. Betul saja, beberapa menit kemudian dia mulai mengetuk pintu kamar aku dan Vani, menyuruh bangun untuk sarapan. Dengan mata sembab dan setengah terbuka, aku malas-malasan menyeret kaki ke ruang makan. Di meja belakang sudah tersaji lima piring mie instan plus telor ceplok ditemani lima gelas teh manis panas.

Setelah sarapan dan cuci muka, kami berkumpul di depan homestay untuk memulai perjalanan Berburu Lumba-lumba. Kali ini tim terbagi dua (hasil hompimpa): aku dan Agung di Jukung 1, sementara Bang Adi, Vani, dan Bapak Tour Guide di Jukung 2, masing-masing dengan seorang 'nahkoda'. Jam 06.00 kedua jukung bertolak menuju laut lepas.

Kali terakhir bisa mengeluarkan kamera karena arus masih tenang
10-15 menit awal berlayar, aku masih excited menikmati sendunya pagi di Kiluan. Belum terlihat perahu yang lain, atau mungkin mereka lebih awal berlayar mendahului kami. Arus laut masih terasa tenang sehingga aku berani mengeluarkan kamera untuk foto-foto. Tak berapa lama, ombak akhirnya terasa. Tak beda jauh dengan ombak kemarin sore, kami mulai kena cipratan karena tidak ada terpal yang menaungi di atas jukung. Dari detik itu juga, 'syuting' film pun dimulai.

Selama kurang lebih satu jam, kami seperti dipaksa menjadi stuntmen untuk lakon film "Life of Pi". Kini aku mengerti perasaan si Pi saat terombang-ambing di laut lepas tak berujung. Gimana rasanya hati ketika yang terlihat mata hanya cakrawala luas; tak ada perahu lain, pulau, karang, apapun. Perahu kami terus mengarah ke laut lepas tanpa tanda-tanda sirip lumba-lumba yang biasanya berlompatan. Mesin jukung meraung di samping telingaku, pertanda bahwa kami tidak akan berhenti melawan ombak dalam waktu dekat. Di mana kalian, lumba-lumba? Sejauh apa kami harus berlayar demi bertemu kalian?

Agung di depanku sudah cemas karu-karuan. Wong kemarin saja yang destinasinya masih jelas terlihat, dia sudah gelisah. Apalagi sekarang dimana hanya terlihat sekawanan burung camar di kejauhan. Saking jauhnya, jukung kami yang terus bergerak maju tidak juga mencapai burung-burung itu. Siapapun yang bilang "bumi itu datar" harus diajak berpetualang di laut lepas seperti ini, biar mereka sadar rasanya tak pernah mencapai 'ujung'.

Waktu berlalu, akhirnya Agung 'melambaikan bendera putih'. Suaranya parau setengah galak saat bertanya, "Mas kita masih jauh ya dari lumba-lumbanya?" pada Abang Jukung. Tak jelas juga apa jawaban yang diberikan (karena posisiku yang begitu dekat dengan mesin.) Agung pun menengok ke belakang dan merayuku, "Manuela aku syudah ndaq syanggup..." Tak bisa bersikap egois, aku lalu mengiyakan. Kami memaksa sang 'nahkoda' untuk kembali ke daratan. Abang Jukung tampak tidak ikhlas. Dua-tiga kali dia memastikan kembali, "Mas, Mbak, jadi kita balik aja?" (yang berbuah pelototan sadis dari Agung)

Apakah aku sedih karena harus say goodbye pada 'perburuan' lumba-lumba? Semestinya, sih. Soalnya sepanjang perjalanan pulang aku seakan mendengar pekikan-pekikan mamalia itu dari kejauhan. Tau dong, readers, maksudku dengan bunyi "kiiiikkk~!"? Apa daya, lama kelamaan aku menyadari bahwa bunyi memekik itu hanyalah gesekan life vest-ku sendiri yang entah bagaimana terdengar mirip benar dengan suara lumba-lumba.

The good thing about going home early is... aku jadi bisa leha-leha menanti kepulangan Bang Adi dan Vani. Tentu saja semua sembari mengusili Agung yang, saking merasa bersalah, tak henti-hentinya minta maaf serta menceritakan point of view-nya saat berburu tadi pagi. "Pokoknya pengalaman pagi ini sukses bikin aku phobia sama laut lepas. Fixed." Oke, Gung, nanti aku ngajak kamu traveling lagi ke sebatas mall dan candi aja ya.

Jukung 2 apa kabarnya...

Rasanya baru beberapa menit aku membaringkan tubuh letih ini di dipan kayu, rombongan Abang Jukung 2 sudah kembali dari petualangan Sherina. "Lin! Lihat deh muka-mukanya pada lemes semua!" Agung melaporkan hasil pengamatannya. Betul saja, wajah dua orang itu tampak kuyu. Well, berkaca dari pengalaman kemarin saat Bang Adi dikepung ombak, aku bisa mengatakan bahwa pagi ini pun sama saja.

"Astaga, kalo tahu kalian sudah balik duluan, mending kami juga balik deh! Nggak ketemu apa-apa!" lapor Bang Adi dengan penuh semangat (negatif). Rupanya mereka tadi ber-positive thinking bahwa perahu kami sudah jauh di depan sehingga tidak protes pada Bapak Tour Guide dan Abang Jukung 2, padahal feeling sudah mulai nggak enak melihat laut luas di depan mata. Hahaha aku ngakak setengah mati. Untunglah aku dan Agung tidak seperahu dengan Bapak Tour Guide, pasti kegigihan beliau malah bikin kami tambah bad mood.

Tukar cerita penuh emosi dan canda-tawa terus berlangsung hingga akhirnya Bapak Tour Guide mengingatkan kami bahwa sekumpulan ojek sudah ready untuk membawa ke Gigi Hiu. Aduh, Gusti, hamba belum siap.

Jadilah kami berempat menaiki masing-masing satu motor ojek yang rata-rata dikusiri anak remaja dan pemuda 20-an, salah satunya adalah Abang Jukung yang menemani kami sejak kemarin. Sebisa mungkin aku memilih motor dengan jok ternyaman demi kemaslahatan tulang ekor yang memang problematis ini. Vani mendapat motor gede yang sejak awal bikin aku baper menjauh karena membayangkan harus nungging selama 1 jam. Jalanan yang kami lalui benar-benar "hancur", readers, tanpa aspal satu meter pun.


Satu jam motoran dengan dipotong waktu sholat Jumat untuk Agung, kami akhirnya tiba di Pantai Gigi Hiu. Puji Tuhan. Kalau saja perjalanan masih jauh lagi, aku pasti minta turun di jalan. Tanganku sudah tak kuat mencengkeram besi pegangan motor.

Akhirnya tiba juga
Dari 'pintu masuk' pantai, kita akan sedikit berjalan kaki menuju area batu karang yang disebut "Gigi Hiu" karena wujudnya yang besar dan bergerigi tajam. Pemandangan yang kami temukan selanjutnya memang spektakuler sih. Worthy banget lah melakukan perjalanan bermotor satu jam untuk panorama seindah ini.

'Gigi Hiu' di kejauhan




Pengunjung juga bisa menaiki beberapa tebing datar agar bisa melihat wujud Gigi Hiu dari ketinggian. Cukup berhati-hati saat menyeberangi bebatuan menuju tebing-tebing ini.





2 dari 4 abang ojek yang setia menemani kami
(Sementara yang mengaku "guide" entah dimana berada)

Kami tidak menunggu sunset di pantai ini, mengingat harus segera check out dan kembali ke Bandar Lampung. Perjalanan pulang terasa lebih mudah (as always) meskipun juga butuh waktu 1 jam. Percakapan lebih banyak terjalin dengan abang ojek masing-masing. Kami juga sempat berpose di pintu masuk Desa Kiluan.


Selesai membayar ongkos ojek ke Gigi Hiu (Rp200.000,- per motor) dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu Koki serta semua abang ojek, mobil kami meninggalkan Desa Kiluan. Malam ini kami akan bermalam di Hotel Grande. Sebelum tiba di hotel, kami putuskan untuk mencicipi Bakso Sony yang maha-populer sebagai kuliner khas Lampung itu.

to be continued.


0 testimonial:

Post a Comment