September 02, 2017

Menjajal Open Trip Pulau Pahawang


Trip Pahawang hari ini hanya menjadi mandatory trip karena kami sudah jauh-jauh ke Lampung, dan punya satu hari lowong. Karena tak tahu lagi harus ke tempat wisata apa, kami putuskan untuk ikut Open Trip Pahawang. Sayang sekali aku lupa nama trip organizer (TO) yang kami ambil itu, padahal aku mau menyarankan readers untuk tidak mengambil paket dari mereka.





Sabtu, 19 Agustus 2017
Well, let the story begins. Alarm ponselku berdering tepat pukul 06.00 WIB, mengalahkan kecepatan chat Bang Adi di grup WhatsApp yang baru muncul 2 menit setelahnya. Bangun sih bangun... tapi dimana letak kenikmatan hidup jika kita tidak menekan tombol Snooze? Hahaha. Mencetnya pun masih 70% merem sambil membatin "5 menit lagi." 5 menit yang ternyata ngaret menjadi 30 karena tahu-tahu ada suara ketukan di pintu kami; Bang Adi dan Agung sudah siap untuk sarapan yang memang dimulai pada pukul 06.30 WIB. Makjang!


Setelah sarapan minimalis (5 sendok mie goreng, 1/2 potong pisang goreng, dan sebiji pisang), naiklah kami ke mobil minivan sewaan dari TO yang on time menjemput jam 7 pagi. Tarif sewa mobil jemputan ini Rp400.000,-/mobil/PP. Terasa mahal karena kami hanya berempat, tapi yoweslah duit bisa dicari lagi #kalimatpembenaran (PS. Minivan-nya penuh hewan kecil sejenis agas yang bikin kami heboh buka-tutup jendela untuk mengusir mereka. Inilah awal mula ketidaksukaanku dengan si TO.)

Disclaimer. Jangan langsung mencap "Trip Pahawang" tidak oke setelah membaca review ini. Semua ungkapan kekecewaan disini semata sudut pandangku yang sudah dipengaruhi rasa capek, gangguan hormonal (IFYKWIM), dan memang kebetulan mendapat TO yang tidak recommended. Jika saja aku berada dalam mood yang lebih baik dan dipandu oleh tour guide yang bagus, mungkin cerita tentang Pahawang akan berbeda.


Tiba di dermaga pukul 07.50 kami ternyata masih harus menunggu -- hampir 1 jam malahan -- sampai seluruh anggota open trip lengkap. Suasana hati pun tidak justru membaik melihat langit yang terus kelabu sejauh mata memandang. Orang-orang di sekitar kami (dari berbagai open trip yang berbeda) asyik dengan keluarga dan geng masing-masing, entah heboh ber-selfie, mencari toilet untuk bersalin baju renang, atau memilih alat snorkeling yang disiapkan si TO. Kami? Duduk anteng saja di deretan kursi plastik Nagoya. Layak aja sih kalau orang-orang lain memandang kami aneh, "Kok empat orang ini ikut tur Pahawang tapi nggak snorkeling?" Ah, seandainya mereka tahu betapa remuk redam badan kami selama di Kiluan...

Pukul 09.00 WIB akhirnya perahu siap dinaiki. Anggota open trip kami berjumlah sekitar 20 orang dengan mayoritas gadis-gadis pribumi berusia 16-18 tahun. Di depan kami duduk 4 sosok cerminan Keluarga Berencana yang harmonis: ayah, ibu, anak perempuan dan adik laki-lakinya. Sejenak pemandangan ini membuatku sendu, throwback ke masa-masa bahagia saat diajak Papa rekreasi Minggu sore ke Pantai Malalayang. Those old good times.

Perjalanan dari dermaga menuju Pulau Pahawang Besar memakan waktu 45-60 menit. Sebagai "makhluk alien" (baca: peserta tur yang tidak snorkeling) kami harus mengalah pada kawanan manusia normal. Destinasi pertama rupanya langsung snorkeling spot tidak jauh dari Pahawang Kecil. Aku lupa namanya apa yang jelas view bawah laut saat itu tidak semenggugah view Bunaken (ya iyalaaah!). Spesies ikan yang bermukim disana pun hanya jenis belang-belang hitam-kuning yang sudah umum, sudah jelas warna-warni karang di bawah sana kurang fantastis.

Airnya jernih

Namun demikian, 16 orang lainnya di perahu kami sangat excited untuk bermain air di spot ini. Selama 30-40 menit kami berempat cengo' (bengong.red) menunggui orang-orang ini berenang hilir mudik. "Mbak, minta tolong ambilin roti dooong..." sang Ibu anggota Keluarga Harmonis tadi berenang di samping perahu meminta pertolonganku. Dasar pegawai yang terlalu berpegang teguh  pada nilai Kementerian Keuangan ke-4 (apa hayooo?), aku sontak menyodorkan roti yang dimintanya dengan senyum maksimal. Tak dinyana... byaaarr! Aku malah kena cipratan air yang -- tak sengaja -- tertendang saat Keluarga Harmonis itu berenang menjauh dari perahu. Jangkrik! Ketiga kawanku (I'm looking at you, Gung!) selanjutnya menyebut kesialanku sebagai, "Air susu dibalas air tuba."

Anyway... Readers, tolong jangan lagi memberi makan ikan di laut seperti itu yah. I know I should've told this to those other Open Trip members in Pahawang, tapi aku tak sanggup menerima cemoohan dari tour guide yang pasti akan membantah dengan, "Nggak papa kok, silahkan dikasih makan aja..." Jadi hanya blog inilah yang kupunya untuk memberi kalian informasi: ikan-ikan yang terbiasa diberi makan oleh pengunjung akan kehilangan insting berburunya. Padahal tidak setiap hari lokasi wisata bawah laut, seperti Pahawang, kedatangan tamu. Pada musim sepi pengunjung, ikan-ikan ini harus tetap mencari plankton/ikan kecil sendiri. Semoga readers sekalian mau mengerti ya. 👵

Kami dari... "Geng Menunggu"!

Agenda selanjutnya: makan siang di Pulau Pahawang Besar. Akhirnya penderitaan kami berakhir. Terapung-apung di atas perahu pada saat arus di sekitarmu riuh akibat banyak orang berenang, itu rasanya memualkan sekali lho. Tapi tahu apa TO kami tentang penderitaan ini, mana mereka mau mengerti, toh kami yang salah sendiri karena nggak ikut snorkeling *muka jutek*

Sebagian besar agen Open Trip menyediakan paket makan siang yang sudah termasuk dalam harga trip. Kami cukup beruntung mendapat harga Rp170.000,- (all hail Bang Adi!) yang sudah all in dengan makanan dan alat snorkeling. Bang Adi, Vani, dan Agung terlihat lahap menikmati sepotong ikan goreng kotakan yang dibagikan tour guide kami. Aku? Ah, semangkuk mie instan pake telor ceplok (Rp12.000,- saja) nampaknya lebih nikmat. Banyak warung makan sederhana yang bertebaran di sepanjang pesisir Pulau Pahawang Besar, tidak perlu khawatir kelaparan. Makanya pastikan kalian membawa uang cash secukupnya saat meninggalkan Dermaga Ketapang. Kami membeli pisang goreng (Rp1.000,-/buah) dan kelapa muda (Rp15.000,-/batok) sebagai teman bersantai di tepi pantai. Lagi-lagi kami menjadi 'alien' karena menolak ajakan si tour guide untuk foto bersama anggota trip lain. Dih, malez bangetz. Pasti nanti fotonya sambil megang banner untuk promosi TO-nya. Ogah.

Mending foto sendiri yakan~

Selepas menunaikan shalat Dzuhur, kami kembali menaiki perahu untuk menuju spot snorkeling selanjutnya. Perut sudah properly terisi, aku jadi lebih santai mengatasi arus laut. Spot kedua ini letaknya tidak jauh dari Pulau Pahawang Besar. Lucunya, disini terdapat sejenis 'warung terapung' yang menjual berbagai cemilan dan kebutuhan nelayan pada umumnya. Apa?! Nanti malah mengotori laut?! Jangan kuatir. Disini juga, surprisingly, ada 'satpam laut' sekaligus 'dinas kebersihan'. Beliau adalah seorang bapak paruh baya diatas kayaknya, mendayung sana-sini untuk memastikan keselamatan para snorkeler. Beberapa kali si Bapak Satpam Laut juga memungut sampah plastik yang dilihatnya mengapung. Seandainya ada 'petugas kebersihan' juga untuk memantau sampah berat yang keburu terbenam ke dasar laut.

"Warung terapung" di sebelah kiri

"Satpam laut" dan kayak warna-warni

Kata si tour guide, di spot ini kita bisa menemukan ikan Nemo. Seluruh anggota trip langsung bersukacita mendengar ucapannya. Mereka tidak tahu saja bahwa ketemu ikan Nemo susahnya minta ampun. Kawanan Nemo tidak pernah jauh dari rumah karangnya, which means kalian harus menyelam, tak bisa hanya snorkeling di permukaan. Usut punya usut, ternyata "Taman Nemo" adalah hasil pelestarian warga setempat yang melakukan transplantasi karang dan mengembangbiakkan anemon laut. Warga ini juga yang meletakkan prasasti bertuliskan "Taman Nemo" dan "Pulau Pahawang" yang kemudian menjadi mandatory spot bagi wisatawan untuk berfoto dalam laut. Prasasti ini berada di kedalaman sekitar 3-5 meter.

Mbak, jauh-jauh ke Pahawang kok malah tidur?

Menghilangkan bosan dan mabuq laud

Akhirnya setelah membuat kami menunggu 1 jam lebih, si tour guide mengomando pasukannya untuk kembali ke perahu untuk menuju Pulau Pahawang Kecil. Sebenarnya ya, readers, pulau satu ini sudah kami capai sejak awal pertama kali tiba di Pahawang (sebelum spot snorkeling pertama!). Entah gimana ceritanya, TO kami memilih rute memutar-mutar, berakhir dengan kesorean tiba di Pulau Pahawang Kecil. Tanpa banyak ba-bi-bu, kami berempat turun dari perahu dan langsung berjalan ke arah deretan pasir tak jauh dari tempat berlabuh. Kami kecewa berat!

Bang Adi paling vokal menyuarakan kekecewaannya. Gimana enggak, wong tujuan utama kami di Pahawang adalah Gusung Pasir (deretan pasir putih panjang yang menghubungkan Pulau Pahawang Besar dan Kecil)! Jika sudah sore, air laut pasang dan 'menenggelamkan' si pasir. Mana bisa disebut "pasir timbul" lagi kalau wes tenggelam? Tahu akan kesini jelang sore, mending kami minta diturunkan di gusung ini selagi menunggu yang lain snorkeling di spot pertama.

Biarpun kecewa, mimik wajah tetap harus profesional depan kamera

Mana pasirnya?

Pulau Pahawang Kecil ini lebih lengang dibandingkan 'abang'-nya; tanpa rumah penduduk dan jejeran kios makanan. Bangunan yang mencolok adalah rumah joglo yang rupanya private resort milik seorang WNA Prancis, sayangnya tidak disewakan untuk umum. Tidak jauh dari resort terdapat taman mangrove mini yang cukup menyejukkan mata. Selain snorkeling, wisatawan dapat melakukan watersport berupa banana dan donut boat dengan biaya Rp30.000,- per orang. Overall, Pulau Pahawang Kecil yang apik ini akan semakin indah jika cuaca sedang cerah. Putihnya pasir timbul, jernihnya air, dan birunya langit akan tampak cemerlang dengan diapit background pegunungan hijau di sekitarnya.

Cottage milik WNA Prancis di kejauhan 



Aku memastikan geng kecil kami hanya berfoto-foto selama 15 menit di Tanjung Putus, sesuai arahan si tour guide. Ealah, balik ke area parkir perahu kami malah menemukan oknum satu itu asyik caper (cari perhatian.red) pada gadis-gadis remaja anggota Open Trip kami yang lagi sesi foto juga tidak jauh dari taman mangrove. Idih, 'buaya' betul. Buaya asli pun tidak se-ngeselin dirimu, Mz.

Sudah berapa banyak kekecewaan yang kami alami akan TO satu ini? Hitungin dong, readers :p

Durasi satu jam perjalanan balik ke Dermaga Ketapang terasa lebih berat dibanding pas berangkat. Arus yang lebih kencang membuat perahu kami lebih terayun-ayun kali ini. Puji Tuhan, pukul 17.00 WIB perahu tertambat dengan selamat sejahtera di dermaga. Tanpa perlu berlama-lama mengembalikan alat snorkeling atau meminta copy foto dari kamera si tour guide, kami naiki kembali minivan yang telah menunggu. Aku bahkan tidak mau repot-repot mengucapkan "terima kasih" pada si TO. There are people who just simply don't deserve a "thank you."

Makan malam sekaligus 'malam minggu' kami lewatkan ala kadarnya di rumah makan sate tidak jauh dari Hotel Grande. Di seberangnya terdapat cafe dengan live music yang kami curigai merupakan penyebab 'kegaduhan' malam sebelumnya, membuat kami susah tidur. Maklumlah hotel tua, dinding-dindingnya sudah tipis dan tembus akan suara senyaring pekikan vokalis band rock. Harga makan malam kami normal saja: Rp30.000,- untuk seporsi sate ayam dan Rp40.000,- untuk sate kambing. Rasanya juga lumayan untuk memanjakan lidah.



Minggu, 20 Agustus 2017
Hari Minggu yang indah ini kami lewatkan dengan bermalas-malasan di hotel sepanjang pagi sampai waktunya check-out. Tentu dengan mengamankan sarapan dulu, berhubung sarapan Hotel Grande ini ludes habis bahkan sejak jam 7 alias setengah jam sejak sarapan disajikan. Banyak keluarga menginap di sini karena harganya yang terjangkau untuk ukuran hotel yang telah berfasilitaskan kolam renang keluarga.

Keliling kota Bandar Lampung terbilang mudah semenjak kehadiran transportasi online seperti Gojek, Uber, dan -- yang paling anyar -- Grab. Kami pun menggunakan yang terakhir ini untuk menuju Mall Boemi Kedaton, tempat persinggahan sebelum menuju bandara sore nanti. Jalanan Bandar Lampung terbilang lancar saja, tapi hanya berlaku di hari Minggu atau tanggal merah. Saat weekdays, jalanan akan dipadati mobil yang mengantar penumpangnya menuju kantor/sekolah sehingga macet kadang tidak bisa dihindari, apalagi di ruas jalan yang terkena proyek pembangunan flyover.

Mall Boemi Kedaton ternyata... cukup mungil. Hahaha. Terdiri dari 4 lantai dengan Bioskop Kedaton di lantai puncaknya. Setelah berputar-putar mensurvei pilihan restoran/kafe, kami jatuhkan pilihan ke resto cepat saji A&W. Kangen juga mencicip tepung berayam (bukan "ayam bertepung" hehehe) dan ice cream cone lembutnya. Usai makan siang, Bang Adi 'memisahkan' diri dan memilih menonton Cars 3 alih-alih Annabelle seperti yang kami pilih. Kelak dia akan bersyukur karena dijauhkan dari Agung yang suka menjerit-jerit -- laiknya wanita diperkosa -- ketika menonton film horor.

Sekianlah pengalaman kami di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai selama 3 hari. Highlight-nya tentu saja merasakan derita Pi, Moana, dan Owen Chase saat terapung-apung di laut lepas 😂 Terima kasih Agung, Bang Adi, dan Vani untuk keseruan dan foto-foto kecenya!

Terima kasih sudah mampir, readers. Segeralah rancang next trip kalian demi melihat megahnya karang-karang Gigi Hiu dan hempasan ombak di Laguna Gayau!


***

Daftar Pengeluaran


  • Tiket = aku lupa berapa harga pasti tiket pesawatnya (CGK-TKG Lion Air, TKG-CGK Nam Air)
  • Total pengeluaran sekitar 2,5 juta include tiket Damri ke/dan bandara dan jajan yang tak tercatat 

2 comments:

  1. hahaha siss kenapa aku pun membaca tulisanmu ini dengan tone negative yaa..akibat dari awal, dirimu sudah bilang kecewa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhu.. namanya juga review berdasarkan pengalaman pribadi, dak :')

      Delete